masa depan kedaulatan manusia
hidup berdampingan dengan algoritma yang semakin cerdas
Pernahkah kita sadar, kapan terakhir kali kita benar-benar membuat keputusan murni dari kepala kita sendiri? Coba ingat-ingat momen santai tadi malam. Saat kita bersandar di sofa dan memilih tontonan atau musik untuk didengarkan, siapa yang sebenarnya memilih? Kita, atau deretan kode algoritma yang menyodorkan rekomendasi "hanya untuk Anda"? Di titik inilah kita perlu berbicara tentang sesuatu yang pelan-pelan sedang bergeser dari genggaman kita. Bukan soal privasi atau data, tapi sesuatu yang jauh lebih intim: kedaulatan kita sebagai manusia.
Untuk memahami apa yang sedang terjadi, kita perlu mundur sedikit melihat sejarah hubungan kita dengan alat yang kita ciptakan. Dulu, waktu nenek moyang kita menemukan kapak batu atau roda, relasinya sangat jelas. Manusia adalah tuan, dan teknologi adalah alat. Kalau kapaknya tidak diayunkan, dia diam saja. Namun hari ini, alat kita tidak pernah tidur. Smartphone di saku kita terus bekerja. Ia memetakan kebiasaan kita, ritme detak jantung kita, sampai mengukur berapa milidetik pupil mata kita terpaku pada sebuah iklan layar sentuh. Secara psikologis, ini adalah pergeseran yang sangat radikal. Kita awalnya menciptakan teknologi untuk beradaptasi dengan kebutuhan kita, tapi pelan-pelan, kitalah yang mulai menyesuaikan gaya hidup agar selaras dengan ritme teknologi.
Ini membawa kita pada sebuah pertanyaan yang lumayan bikin merinding. Kalau semua keputusan kecil kita sudah diambil alih oleh mesin cerdas—mulai dari rute mana yang paling cepat untuk pulang kerja, makanan apa yang sedang kita idamkan, sampai siapa kandidat yang secara probabilitas paling cocok jadi pasangan hidup—lalu di mana letak kebebasan kehendak kita? Di dalam dunia neuroscience, ada konsep yang disebut cognitive offloading. Pada dasarnya, otak manusia sangat menyukai efisiensi dan benci membuang energi. Begitu ada "asisten eksternal" yang bisa berpikir untuk kita, otak kita dengan senang hati menyerahkan tugas berat tersebut. Otak kita perlahan menjadi manja. Tapi, jika kita terus-menerus memindahkan fungsi berpikir kita ke awan digital, seberapa jauh kita berani menyerahkan kemudi hidup kita sebelum kita benar-benar menjadi penumpang di tubuh kita sendiri?
Di sinilah letak kejutan besarnya. Teman-teman, selama berdekade-dekade fiksi ilmiah menakut-nakuti kita dengan gambaran dystopia. Kita membayangkan robot berwajah baja ala Terminator yang datang membawa senjata laser untuk menjajah umat manusia. Padahal, kenyataannya sama sekali tidak dramatis dan jauh lebih senyap. Kita tidak ditaklukkan oleh senjata, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih menggoda: kenyamanan. Kita secara sukarela menyerahkan kedaulatan kita bukan karena kita kalah perang, tapi karena kita ditawari kemudahan yang luar biasa. Algoritma hari ini telah berevolusi menjadi semacam digital butler atau pelayan digital yang kelewat sempurna. Masalah psikologisnya adalah, ketika seorang pelayan sudah tahu persis apa yang kita butuhkan sebelum kita sendiri menyadarinya, pelan-pelan sang pelayanlah yang mulai mengatur jalannya seisi rumah, bukan lagi sang tuan.
Tentu saja, saya tidak sedang mengajak teman-teman untuk melempar ponsel ke laut, membakar laptop, dan kembali hidup berpindah-pindah di dalam hutan. Sama sekali tidak. Hidup berdampingan dengan algoritma yang semakin cerdas adalah takdir evolusi kita selanjutnya. Namun, kita perlu meredefinisi apa arti menjadi manusia yang berdaulat di abad ini. Kedaulatan tidak berarti menolak teknologi. Kedaulatan berarti kita tahu persis kapan kita menggunakan algoritma, dan kapan algoritma itu sedang menggunakan kita. Mari kita mulai dari hal-hal kecil. Sesekali, cobalah sengaja mengambil jalan pulang yang berbeda tanpa menyalakan aplikasi navigasi. Bacalah buku atau dengarkan lagu yang sama sekali tidak ada di daftar rekomendasi aplikasi Anda. Buatlah keputusan-keputusan "bodoh", tidak logis, dan tidak efisien yang murni berasal dari keisengan Anda sendiri. Karena, teman-teman, di ruang-ruang ketidakefisienan dan kejutan itulah, letak kemanusiaan kita yang paling utuh masih bersembunyi.